(Yang meski 'kepulangannya' mungkin hanya angan-angan semu bagiku,
namun selalu mampu membuatku berharap banyak)
Hallo, Tuan...
Hari ini aku tak melihatmu, tak melihat mata coklatmu yang
nampak teduh setiap harinya, tak melihat kumis tipismu yang selalu membuatku
tersenyum tiap kali aku melihatnya, tak melihat jambulmu yang tingginya mungkin
hampir seperti ombak di lautan, dan tak melihat sorot matamu yang selalu
memancarkan kehangatan setiap kali aku membenamkan tatapan di wajahmu.
Hari ini, seperti biasa, aku pergi ke tempat kita menimba ilmu, tempatmu dan tempatku berdiam dan belajar. Ah, Tuan... sudah hampir sebulan kita tidak bersama, tapi aku masih disini, dengan perasaan yang sama seperti saat kita bersama sebelumnya, namun bedanya kali ini ada tambahan rasa penyesalan yang amat besar dihatiku, mungkin itulah sebab kita tak pernah lagi saling berkata dan menyapa.
Kamu harus tahu, Tuan.
Setiap kali kita berjumpa secara tak sengaja dikantin,
dikoridor sekolah, diparkiran, ataupun dimasjid, rasanya aku hanya ingin terus
menatap wajahmu dan tak akan pernah membiarkanmu untuk pergi lagi. Aku hanya ingin
waktu berhenti dan wajahmu bisa kunikmati sepuas hati seperti dulu, saat kita masih bersama. Mungkin, kamu tertawa
geli, gadis lugu ini benar-benar tak tahu diri. Tak menyadari bahwa itu hanya
akan abadi dalam angan dan mimpiku.
Bolehkah aku meramalkan masa depan perasaanku kelak padamu, tuan? Kamu--dan--aku (
Aku yang mungkin tak akan pernah bisa melihatmu lagi nantinya, hanya bisa melanjutkan petualanganku sendirian. Mungkin, nanti aku hanya bisa membayangkan wajahmu didalam fikiranku sambil mengenang kamu yang selalu tertawa manis meskipun lelucon yang ku lontarkan sebenarnya tak pernah selucu itu. Tapi kamu tak pernah pergi, selalu disampingku, menertawakan hal-hal bodoh bersamaku. Ah... rasanya aku tak ingin berada dalam keadaan seperti ini. Menyadari bahwa kamu--dan--aku telah benar benar akan pergi. Tuan, aku tentu hanya bisa menghidupkan kembali ingatanku saat kita yang selalu bercanda saat berpapasan dimasjid sekolah setiap waktu dhuha ataupun zuhur saat itu, andai kautahu bagaimana perasaanku; rasanya aku rindu dan ingin memelukmu, tapi siapa aku dimatamu? Hahaha, hanya gadis tak tahu diri yang menganggap bahwa kamu dan senyumanmu itu masih sepenuhnya miliku. Tak menyadari bahwa pada akhirnya
Wahai, Tuan---cahaya dari surgaku--- ya aku biasa menyebutmu itu; aku tidak seberani itu. Sekarang ini aku hanya bisa mencari kabarmu dari Twitter, mencuri keindahanmu dari akun instagram, dan diam-diam bertanya mengenai kamu pada teman-temanku. Ah, ya, Tuan, aku pengecut. Kamu boleh menertawakan perasaanku dan mencaciku dengan makian paling kasar. Sejak mengenalmu, aku tak bisa bedakan siapa yang pantas aku tinggalkan dan aku perjuangkan. Hatiku telah memilihmu, kamu yang mungkin--pasti--- tak akan pernah lagi memikirkanku sedikitpun.
Tuan, aku menulis ini sambil mengingat lagu ciptaan Ahmad Dhani yang berjudul Immortal Love Song. Lagu ini seperti membisikkan banyak hal yang kurasakan, tentang gadis yang tak pernah meminta untuk dibalas perasaannya, tentang seseorang yang hanya bisa melihat dan memandang namun enggan mengajak bicara, atau tentang aku yang ternyata diam-diam masih dan akan selalu mencintai sosokmu? Dalam lagu ini, nampak jelas ada seseorang yang jadi bodoh, alay, tolol, hanya karena ia jatuh cinta. Ya, aku sedang dalam fase itu, dan jika suatu hari nanti kau membaca ini (kuyakin tak akan pernah kaubaca juga) pasti kamu ingin bilang aku ini gila, keterlaluan.
Tuan, Aku punya banyak mimpi...
Salah satunya aku ingin berjalan berdampingan denganmu ke
pantai, ke gunung, bahkan ke sekolah seperti yang biasa kita lakukan pun tak apa asal selalu bersamamu. Ah, aku suka
semua tempat dan aku ingin menikmati itu semua bersamamu, kalau boleh sedikit
mengemis, aku ingin habiskan semua dalam pelukmu.
Oke, lupakan saja khayalan yang tak akan pernah lagi terkabul itu. Tapi, sungguh, aku ingin bermain - main ke pantai bersamamu. Kita menghilang bersama, melarikan diri bersama, dan mencari jalan pulang bersama. Aku ingin menghilang bersamamu dan setelah itu; kita saling menemukan.
dari gadis gila
yang satu sekolah denganmu
yang sangat mengagumimu
yang tolol karenamu
yang (masih) mencintaimu.

0 komentar:
Posting Komentar