Rabu, 24 Februari 2016

Surat Ketiga.



Untuk Tuan yang pernah singgah dihati ini...
(Yang meski saat ini bayangannya jelas sulit untuk ku sentuh, namun tetap selalu kuperjuangkan)

Hallo tuan...
Ditengah suasana kelam yang menemaniku siang ini, aku masih tetap bisa tersenyum saat melihatmu menuruni anak tangga diujung lorong itu. Meski hanya siluetmu yang dapat kulihat karena jarak kita yang lumayan jauh, tapi aku tetap dapat mengenali siapa sosok dibalik siluet itu. Kamu. Seseorang yang selalu ku kenali sosoknya dari jauh, tapi tak pernah lagi berani ku sebut namanya keras-keras. Tidak, Tuan... bukan aku malu. Aku hanya tahu diri. Tahu betul bahwa aku sudah tak berarti lagi dimatamu. Tahu betul bahwa aku yang sepenuhnya salah disini. Dan Tahu betul bahwa aku hanya akan terus abadi dalam kabut abu-abu yang begitu kelam dalam hidupmu. Dalam ke-tahudiri-an ku itu, aku hanya berani menyebut namamu dalam hatiku, bahkan dengan beraninya seringkali ku teriakan namamu jika rindu ini kembali muncul ke peraduannya. Tapi aku tahu, jelas, itu semua tak akan berarti apa-apa untukku. Sekencang apapun aku berusaha memanggil namamu dalam diamku, sekencang apapun aku berteriak menyerukan namamu dalam  heningku, kau tetap tak akan pernah mendengar dan merasakannya.

Mengapa ini semua begitu tidak adil, tuan? Mengapa hanya aku seorang diri yang seperti ini? Mengapa hanya aku seorang diri yang bersusah payah untuk memperbaiki hubungan ini? Mengapa hanya aku seorang diri yang selalu berusaha menggapai asa semu yang selalu kau berikan? Mengapa, Tuan?

Aku tahu, bahkan sangat tahu.
Menyentuh bayangmu saat ini begitu sulit. Sesulit soal-soal logaritma yang meski sedaritadi telah kucoba untuk fahami namun tak kunjung kumengerti juga. Mungkin kamu akan tertawa geli mendengar pernyataanku barusan. Tak apa, Tuan. Aku mengerti, aku tahu betul bahwa soal-soal seperti itu mungkin sangat mudah untuk kau kerjakan dengan kecerdasanmu yang tak dapat kuragukan lagi. Aku tahu betul kamu begitu cerdas dalam berbagai bidang akademis. Meski aku tak tahu benar bidang apa yang paling kamu kuasai, namun melihat prestasimu yang begitu menjulang dalam kelasmu itu, aku yakin kau cerdas dalam segala bidang. Itulah mengapa aku tak henti-hentinya memuji dan membanggakanmu dengan caraku yang bodoh ini.

Tuan, bolehkah aku jujur padamu?
Kamu seperti bintang. Bintang yang selalu menyinari malam-malam kelam menjadi lebih indah nan gemerlap dengan pancaran sinarmu yang selalu membuatku ingin terus memandangi cahayanya, membuatku ingin selalu menggapaimu lebih dekat, membuatku ingin sekali menyentuhmu, dan membuatku tak pernah berpaling memandangi cahayamu yang indah itu. Hahaha. Tapi jangankan untuk ku sentuh, untuk ku gapai saja rasanya takkan mampu. Kau begitu kelabu. Sangat sulit untuk ku mengerti, dan sulit untuk ku gapai. Bagai bayangan diri dalam cermin yang sudah jelas tak bisa kau sentuh secara nyata namun tetap selalu kau coba untuk menyentuhnya, setiap detik, setiap hari, lagi dan lagi. Meski kau tahu yang selalu kau dapat hanya kesia-siaan semata.



dari aku yang (masih) selalu memujimu
yang (masih) selalu membanggakanmu
yang paling tahu apapun tentangmu
yang (masih) selalu menyebutmu dalam doaku.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.